OSK 2017

Sebenernya OSK itu udah kelewat lumayan jauh sih, tapi gak apa-apa lah saya ceritakan lagi bagaimana pengalaman saya di OSK ini.

Saat ini saya adalah seorang murid kelas XI yang bersekolah di SMA terbaik di daerah terpencil yaitu SMAN 2 Kuningan. Sebetulnya saya sudah berkeinginan untuk mengikuti olimpiade ini sejak saya menduduki kelas X, tapi entah kenapa saya tidak mengikuti kontes ini saat itu.

Tahun ini saya telah membulatkan tekad untuk mengikuti olimpiade ini. Dari ekskul saya sendiri ada 3 orang yang berniat mengikuti OSK yaitu Saya, Irfan, dan Salman. Ekskul saya adalah IT, sebuah ekskul yang membahas hal yang sesuai dengan nama ekskulnya.

Pada suatu hari, murid-murid yang berminat untuk mengikuti OSK semua bidang (kayaknya ada beberapa yang nggak) dipanggil untuk diuji kemampuannya. Salman sakit saat itu, lalu Risya yang memiliki waktu luang (sedang gabut) mengikuti pengujian tersebut, padahal ia tidak berminat mengikuti OSK (w). Skip langsung ke tempat dimana kami diuji, kami diberi soal yang sama dengan yang diberikan kepada calon wakil-wakil OSK bidang matematika, karena pembimbing kami tidak memberikan soal informatika kepada yang menguji.

“Soal OSN informatika itu isinya matematika, jadi kalian kerjain ini. Kalian bisa ngerjain 3 atau 4 soal aja udah bagus.” kata si penguji. (tbh si penguji ini salah satu guru matematika yang ngeselin buat gw, alasannya liat aja nanti)

(*buset nih orang kok omongannya kayak ngeremehin gitu ya, liat aja*)

Skip pengerjaannya, saya mengerjakan sekitar sepuluh lebih soal dalam waktu kurang dari yang diberikan karena saat itu sudah sore dan perut sudah bergemuruh. Gw sih cukup optimis dengan hasilnya.

“Pak, hasilnya bisa diliat kapan ya?” tanya saya.

“Sabar aja, nanti juga tahu sendiri”

Lalu keesokan harinya saya tanya anak Matematika tentang soal kemarin. Ternyata ia hanya yakin menjawab sekitar 5 soal, ketika kami membahas soalnya dia setuju penuh dengan 9 jawaban saya. Sayapun semakin optimis akan mendapatkan dukungan dari si penguji itu.

Anehnya, si penguji justru sama sekali tidak mendukung kami (ekskul IT) untuk mengikuti OSK. Ia malah menyarankan agar yang mengikuti OSK Informatika adalah murid-murid yang mengikuti KB Matematika.

“Negative thinking?”

Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku adalah si penguji sama sekali tidak mempertimbangkan soal-soal yang kami kerjakan. Bahkan mungkin ia tidak memeriksanya sama sekali. Tapi tetap saja, pembimbing lah yang mempunyai hak untuk menentukan murid yang mengikuti olimpiade ini jadi…

OSK dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Maret 2017. Saya sudah mulai belajar untuk ini dari hari sabtu. Pada hari sabtu dan minggu yang saya pelajari adalah Logika Proposisi, Kombinatorik, dan sedikit aritmetika. Lalu pada hari senin wakil-wakil OSK dari sekolah kami dikumpulkan untuk diberi arahan oleh guru tentang teknis-teknisnya. Dan yang diikutkan OSK ini adalah Saya, Irfan, Salman, Ziad (ini mungkin karena ia adalah peserta tahun sebelumnya), dan adilah. Kami baru mulai latihan (secara formal) dari hari senin. Ya, itu adalah 1 hari sebelum OSK. Walaupun hanya sebentar tapi jujur saya cukup menikmatinya. Guru pembimbing matematika kami adalah bu Riza, ia memiliki buku yang berjudul Matematika Diskrit di tasnya. Saya pun meminjam buku tersebut melalui Ziad. (diambil dulu sih baru ngomong). Pada jam 4 sampai 5 sore kami belajar tentang pemrograman bersama bu Annisa.

Keesokan harinya adalah hari dimana OSK dilaksanakan. Kami diberi tahu agar kumpul pada jam setengah tujuh (walaupun gw ngaret), lalu mengisi absen dan bersiap-siap untuk berangkat. Saya berangkat pada pemberangkatan pertama (sekali lagi walaupun gw ngaret). OSK dilaksanakan di suatu sekolah di Cigugur (gak jauh dari rumah gw) Sesampainya di sana kami hanya berbincang-bincang hal-hal ringan, saya sebisa mungkin menghindari pembahasan materi OSK untuk menguatkan mental, termasuk Irfan yang sedang mempelajari buku matematika diskrit. Ia bertanya kepada saya dan saya hanya menjawabnya dengan jawaban singkat (dengan tujuan menghindari bahasan tentang materi OSK).

Kami dikumpulkan di sebuah lapangan. Di sana dilaksanakan upacara dan kami dipertemukan dengan lawan-lawan kami, dan tepat di depan saya berdiri banyak orang yang berbaris dengan membawa buku Matematika Diskrit, buku yang sama dengan yang kutemukan di tas bu Riza, memikirkan itu membuat mentalku down.

“Bagaimana jika ternyata mereka sudah sangat menguasai materi yang ada di buku tersebut? Karena isinya sangat mudah dimengerti.”

Lalu kami ditunjukan dimana kelas kami, lucunya kami berlima duduk di kelas yang sama dan pada baris yang sama, ini tidak terjadi pada bidang yang lain. Saya duduk di baris ke 4. Seingat saya, saya mengerjakan sebanyak 31 soal dan saya cukup yakin dengan hasilnya. Tapi tetap saja, rasa khawatir selalu ada.

“Tapi tetap saja, rasa khawatir selalu ada.”

Keesokan harinya, beredar rumor bahwa saya menduduki peringkat 1 di OSK ini. Bu Annisa juga mengatakan demikian. Rasa senang, rasa puas, rasa khawatir karena ini masih belum resmi, dan rasa takut menanggung malu apabila ini ternyata hanya berita tidak benar bercampur menjadi satu. Bahkan walaupun bu Annisa sudah mengatakannya, ini tetap belum bisa dipercaya.

“Bahkan walaupun bu Annisa sudah mengatakannya, aku tetap tidak percaya.”

Beberapa hari kemudian diumumkanlah hasilnya secara resmi, dan ternyata memang benar. Saya menduduki peringkat pertama dengan perolehan nilai yang berbeda tipis dengan peringkat dua dan tiga. Di sekolah kami hanya saya yang lolos di bidang Informatika.

I wish I win the OSP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s